Setiap kali seorang kepala daerah, pejabat, atau aparatur negara ditangkap karena dugaan korupsi, publik biasanya langsung menunjuk satu orang sebagai pelaku utama. Memang, secara hukum, merekalah yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tidak ada pembenaran bagi siapa pun yang menyalahgunakan jabatan demi keuntungan pribadi.
Namun pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah korupsi hanya lahir dari satu orang?
Jawabannya hampir tidak pernah sesederhana itu.
Korupsi sering kali tumbuh dalam sebuah ekosistem. Ada yang menikmati hasilnya, ada yang membiarkannya, ada yang takut melawan, bahkan ada yang secara sadar ikut mendukung.
Di banyak daerah, politik masih dipandang sebagai investasi, Ketika seseorang mengeluarkan biaya besar untuk mendapatkan jabatan politik, sebagian masyarakat justru menganggap hal itu wajar. Bahkan muncul ungkapan, "Nanti juga balik modal setelah menjabat."
Kalimat sederhana itu sebenarnya sangat berbahaya, Karena ketika masyarakat menganggap "balik modal" sebagai sesuatu yang normal, maka korupsi bukan lagi dipandang sebagai kejahatan, melainkan konsekuensi dari sebuah proses politik, Di sinilah akar persoalannya.
"Masyarakat Tidak Selalu Tidak Bersalah", Kalimat ini mungkin terasa keras, tetapi perlu disampaikan.
Masyarakat memang menjadi korban korupsi. Namun dalam kondisi tertentu, masyarakat juga bisa ikut menciptakan ruang bagi korupsi.
Ketika memilih pemimpin hanya karena diberi uang.
Ketika meminta bantuan pribadi kepada pejabat dengan harapan mendapat kemudahan di luar prosedur.
Ketika diam melihat penyimpangan karena merasa ikut menikmati keuntungan.
Ketika membela pejabat yang jelas-jelas bermasalah hanya karena hubungan keluarga, kedekatan politik, atau kepentingan kelompok.
Semua itu perlahan membentuk budaya permisif terhadap korupsi.
Korupsi akhirnya tidak lagi dianggap memalukan, selama masih ada manfaat yang dirasakan oleh kelompok tertentu.
Koruptor hampir tidak pernah bekerja sendirian, Ada bawahan yang menjalankan perintah, Ada rekanan yang memberi suap, Ada pihak yang menjadi perantara, Ada tim sukses yang terus menekan agar "janji politik" segera ditepati, Ada elite yang menikmati fasilitas, Bahkan ada orang-orang yang sejak awal mengetahui praktik tersebut tetapi memilih diam.
Secara hukum, tentu tanggung jawab ditentukan berdasarkan alat bukti. Namun secara moral, setiap orang yang sengaja mendukung atau membiarkan praktik korupsi patut melakukan refleksi. Korupsi tidak akan bertahan lama jika lingkungan di sekitarnya menolak.
OTT memang penting, Penangkapan memberi efek kejut, Tetapi jika setiap tahun muncul pelaku baru dengan pola yang sama, berarti yang rusak bukan hanya individunya.
Yang perlu diperbaiki adalah sistem, Transparansi anggaran harus dibuka, Pengawasan DPRD harus berjalan sungguh-sungguh, bukan sekadar formalitas, Inspektorat harus berani independen, Media harus tetap kritis, Masyarakat harus berani melapor, Dan partai politik harus berhenti mengutamakan elektabilitas tanpa melihat integritas calon yang mereka usung.
Bengkulu memiliki banyak aparatur yang jujur, pemimpin yang bekerja dengan baik, dan masyarakat yang peduli. Karena itu, maraknya OTT seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat integritas, bukan membuat publik kehilangan harapan.
Korupsi bukan hanya persoalan uang negara yang hilang, Korupsi mencuri kesempatan anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak, Korupsi merampas hak masyarakat atas jalan yang baik, layanan kesehatan yang berkualitas, serta pembangunan yang merata.
Karena itu, perang melawan korupsi tidak cukup dilakukan oleh aparat penegak hukum, Perang itu harus dimulai dari ruang keluarga, sekolah, partai politik, birokrasi, dunia usaha, media, hingga setiap pemilih di bilik suara.
Sebab selama masyarakat masih memaklumi politik uang, selama pendukung masih membela pejabat yang korup tanpa kritik, dan selama integritas kalah oleh kepentingan sesaat, maka satu OTT hanya akan digantikan oleh OTT berikutnya.
Korupsi memang dilakukan oleh pelaku. Namun jika lingkungan terus memberi ruang, maka sesungguhnya kita semua sedang mempertaruhkan masa depan Bengkulu.
—
| Reporter : Nur A's | Editor : Arief/Tri | Sumber Foto : Redaksi |
_11zon.jpg)
