Inflasi di Indonesia dihitung berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang disusun oleh Badan Pusat Statistik.
IHK merupakan indikator yang mengukur perubahan harga dari berbagai barang dan jasa yang biasa dikonsumsi masyarakat.
Dalam perhitungannya, BPS memantau ratusan komoditas yang masuk dalam beberapa kelompok utama, seperti: makanan, minuman, dan tembakau, perumahan dan energi, transportasi, kesehatan, pendidikan, rekreasi dan jasa lainnya
Perubahan harga dari komoditas-komoditas tersebut kemudian dihitung menjadi satu angka indeks. Dari perubahan indeks inilah angka inflasi diperoleh.
Rumus sederhana inflasi adalah:
Inflasi = (IHK periode sekarang – IHK periode sebelumnya) / IHK periode sebelumnya × 100 persen
Jika indeks harga meningkat, maka terjadi inflasi.
BACA JUGA ; Mengurai Kekuasaan Lahan HGU di Mukomuko
Hanya Dua Daerah di Bengkulu yang Memiliki IHK
Tidak semua kabupaten atau kota di Indonesia memiliki penghitungan IHK sendiri. BPS hanya memilih daerah tertentu yang dianggap mewakili struktur ekonomi suatu wilayah.
Di Provinsi Bengkulu, hanya terdapat dua daerah yang menjadi wilayah penghitungan IHK, yaitu:
Kota Bengkulu
Mukomuko
Data harga di dua wilayah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi inflasi di seluruh provinsi.
Artinya, ketika pemerintah daerah menyampaikan angka inflasi Mukomuko, data tersebut sebenarnya berasal dari penghitungan IHK yang dilakukan oleh BPS di wilayah tersebut.
Statistik Inflasi Mukomuko
Berdasarkan beberapa rilis statistik, inflasi di Mukomuko memang menunjukkan tren menurun dalam beberapa periode terakhir.
Beberapa data yang pernah dirilis BPS menunjukkan:
2024 : inflasi sekitar 4,48 persen
2025 : inflasi sekitar 4 persen
Januari 2026 : inflasi sekitar 2,55 persen
Secara statistik, angka tersebut menunjukkan bahwa laju kenaikan harga mulai melambat. Namun penting dipahami bahwa inflasi turun tidak berarti harga barang menjadi lebih murah. Inflasi turun berarti harga masih naik, tetapi kenaikannya lebih lambat dibandingkan sebelumnya.
Mengapa Harga Masih Terasa Mahal?
Inilah yang sering menimbulkan perbedaan persepsi antara data statistik dan pengalaman masyarakat. Ada beberapa faktor yang membuat harga kebutuhan pokok tetap terasa tinggi meskipun inflasi disebut turun.
1. Distribusi Barang
Kabupaten Mukomuko masih bergantung pada pasokan barang dari luar daerah. Biaya transportasi menjadi komponen penting dalam pembentukan harga. Jika ongkos distribusi meningkat, harga barang di pasar lokal ikut terdorong naik.
2. Komoditas Pangan Sensitif
Beberapa komoditas sangat sensitif terhadap inflasi, seperti: cabai merah, bawang merah, beras premium, minyak goreng, LPG 3 kilogram. Komoditas ini sering mengalami fluktuasi harga dalam waktu singkat.
3. Struktur Ekonomi Daerah
Sebagian besar masyarakat Mukomuko menggantungkan penghasilan pada sektor perkebunan sawit. Ketika harga tandan buah segar sawit turun, daya beli masyarakat ikut melemah, Dalam kondisi ini, kenaikan harga pangan terasa lebih berat.
Peran Tim Pengendali Inflasi Daerah
Untuk menjaga stabilitas harga, pemerintah daerah membentuk Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang bekerja sama dengan Bank Indonesia.
Beberapa langkah yang dilakukan antara lain:
operasi pasar atau pasar murah
pemantauan harga di pasar tradisional
koordinasi pasokan dengan daerah lain
intervensi harga menjelang hari besar keagamaan
Program seperti Gerakan Pangan Murah menjadi salah satu upaya menahan lonjakan harga kebutuhan pokok.
Namun kebijakan tersebut sering bersifat sementara dan biasanya dilakukan pada momen tertentu seperti Ramadhan atau akhir tahun.
Inflasi Statistik vs Realitas Pasar
Secara statistik, penurunan inflasi di Mukomuko memang dapat dikatakan benar jika merujuk pada data IHK.
Namun dalam praktiknya, stabilitas inflasi tidak selalu identik dengan turunnya harga barang di pasar. Inflasi lebih menggambarkan kecepatan kenaikan harga, bukan harga itu sendiri.
Karena itu, masyarakat masih dapat merasakan harga kebutuhan pokok yang relatif mahal meskipun angka inflasi disebut menurun.
BACA JUGA ; Angka Kemiskinan Turun, Tapi Desa Di Mukomuko Masih Bertahan Hidup
Tantangan Ekonomi Mukomuko
Beberapa tantangan struktural yang mempengaruhi stabilitas harga di daerah ini antara lain:
ketergantungan pasokan dari luar daerah
biaya transportasi yang tinggi
fluktuasi harga sawit
keterbatasan produksi pangan lokal
Tanpa penguatan sektor produksi pangan dan perbaikan sistem distribusi, stabilitas harga akan sulit tercapai secara berkelanjutan.
Antara Data dan Kenyataan
Pada akhirnya, inflasi memang dapat terlihat menurun dalam laporan statistik. Namun stabilitas ekonomi masyarakat tidak hanya diukur dari angka inflasi.
Yang lebih penting adalah apakah harga kebutuhan pokok benar-benar stabil dan terjangkau bagi masyarakat.
Bagi warga Mukomuko, ukuran inflasi yang paling nyata bukan sekadar angka dalam laporan statistik, melainkan harga beras, cabai, dan minyak goreng yang mereka beli setiap hari di pasar.
Sumber Data ;
- Badan Pusat Statistik. 2023. Konsep dan Metodologi Indeks Harga Konsumen. Jakarta.
- Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu. 2024. Berita Resmi Statistik Inflasi Mei 2024. Bengkulu.
- Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu. 2024. Berita Resmi Statistik Inflasi Desember 2024. Bengkulu.
- Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu. 2026. Berita Resmi Statistik Inflasi Januari 2026. Bengkulu.
_11zon.jpg)
