Pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) mengenai insentif Rp6 juta per hari bagi mitra SPPG dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memunculkan pertanyaan mendasar: apakah penghargaan negara sudah ditempatkan pada prioritas yang tepat?
Secara prinsip, negara memang wajib memberikan kompensasi layak kepada pihak yang bekerja dalam program strategis nasional. Tidak ada yang keliru dengan penghargaan terhadap kerja profesional. Namun, persoalan publik bukan terletak pada konsep penghargaan — melainkan skala, proporsi, dan rasa keadilan anggaran.
Ketika angka Rp6 juta per hari disebut sebagai insentif, publik secara otomatis melakukan perbandingan sosial: bagaimana dengan tenaga pendidikan, terutama guru honorer, yang selama bertahun-tahun bekerja dengan penghasilan jauh di bawah standar kelayakan hidup?
Mari Hitung Secara Sederhana
Karena pemerintah menyebut angka Rp6 juta per hari, maka akumulasinya menjadi sangat besar.
1️⃣ Insentif per satu SPPG
Rp6.000.000 × 30 hari
= Rp180.000.000 per bulan
Dalam setahun:
Rp180.000.000 × 12 bulan
= Rp2,16 miliar per SPPG per tahun
Artinya, satu mitra saja menerima penghargaan negara lebih dari dua miliar rupiah setiap tahun.
BACA JUGA : MBG, Sapi 19 Ribu Ekor, dan Logika Kebijakan yang Perlu Dijelaskan
2️⃣ Jika jumlah SPPG bertambah (simulasi konservatif)
Karena jumlah pasti tidak disebutkan secara terbuka, mari gunakan beberapa skenario rasional:
Jumlah SPPG Biaya per Hari Biaya per Bulan Biaya per Tahun
100 SPPG Rp600 juta Rp18 miliar Rp216 miliar
500 SPPG Rp3 miliar Rp90 miliar Rp1,08 triliun
1.000 SPPG Rp6 miliar Rp180 miliar Rp2,16 triliun
Bahkan pada skenario moderat 500 SPPG, negara berpotensi mengeluarkan lebih dari Rp1 triliun per tahun hanya untuk insentif penghargaan.
Bandingkan dengan Guru Honorer
Misalkan negara ingin menaikkan insentif guru honorer sebesar:
👉 Rp1 juta per bulan per guru
(angka yang masih sangat moderat).
Maka:
Rp1 triliun ÷ (Rp1 juta × 12 bulan)
= ≈ 83.000 guru honorer bisa mendapat tambahan penghasilan selama setahun.
Jika skenario 1.000 SPPG terjadi:
Rp2,16 triliun
= cukup untuk meningkatkan kesejahteraan sekitar 180.000 guru honorer selama satu tahun.
Angka ini bukan kecil. Ini menyangkut kehidupan puluhan hingga ratusan ribu tenaga pendidikan di seluruh Indonesia.
BACA JUGA : Strategis, Namun Perlu Realisme — Menimbang Pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional tentang MBG
Masalah Utamanya: Persepsi Keadilan Publik
Publik tidak selalu menolak insentif besar. Namun masyarakat akan bertanya:
Mengapa penghargaan bernilai miliaran diberikan kepada mitra program?
Siapa sebenarnya mitra tersebut?
Apakah mereka pelaku lapangan atau elite pelaksana proyek?
Mengapa profesi pelayanan publik jangka panjang justru masih berjuang dengan honor minim?
Ketika penghargaan negara tampak lebih cepat mengalir ke struktur proyek dibanding profesi pelayanan sosial, maka yang muncul bukan sekadar kritik anggaran — tetapi krisis kepercayaan.
Penghargaan Negara Harus Punya Hierarki Moral
Program MBG memiliki tujuan mulia: meningkatkan gizi masyarakat. Namun keberhasilan program sosial tidak hanya diukur dari kecepatan implementasi, melainkan juga dari keadilan distribusi manfaat anggaran.
Negara perlu menjawab satu pertanyaan sederhana:
> Apakah penghargaan negara lebih besar diberikan kepada pengelola program, atau kepada mereka yang setiap hari membangun masa depan bangsa?
BACA JUGA : Ketika Gugatan Guru Honorer Bukan Sekadar Soal Hukum, Tapi Soal Hati Nurani Bangsa
Jika insentif Rp6 juta per hari dianggap wajar sebagai motivasi kerja, maka publik berhak bertanya: berapa nilai penghargaan negara terhadap guru honorer yang bekerja puluhan tahun tanpa kepastian kesejahteraan?
Penutup
Transparansi bukan ancaman bagi pemerintah — justru legitimasi.
Semakin besar anggaran yang digunakan atas nama rakyat, semakin besar pula kebutuhan penjelasan kepada rakyat.
Karena pada akhirnya, polemik ini bukan soal angka Rp6 juta.
Melainkan soal rasa keadilan dalam penggunaan uang negara.
_11zon.jpg)
