Sejarah Kalender: Mengapa Februari Menjadi Bulan Paling Pendek?

POLITIKADHARMA.COM
By -
0

POLITIKADHARMA.COMSetiap tahun, bulan Februari selalu menjadi bulan dengan jumlah hari paling sedikit dibanding bulan lainnya. Pada tahun biasa, Februari memiliki 28 hari, sementara pada tahun kabisat jumlahnya bertambah menjadi 29 hari. Tradisi ini ternyata memiliki akar sejarah panjang yang berasal dari sistem kalender Romawi kuno.

Sejarah mencatat bahwa kalender awal bangsa Romawi disusun oleh tokoh legendaris pendiri kota sekitar abad ke-8 sebelum masehi. Pada masa itu, kalender Romawi hanya terdiri dari 10 bulan dengan total sekitar 304 hari dalam satu tahun.


Menariknya, kalender tersebut dimulai dari bulan Maret dan berakhir pada Desember. Sementara periode musim dingin yang berlangsung sekitar dua bulan tidak dimasukkan ke dalam sistem kalender resmi.


Perubahan besar terjadi pada masa pemerintahan , raja kedua Romawi. Ia menambahkan dua bulan baru yakni Januari dan Februari sehingga jumlah bulan menjadi 12. Sistem kalender ini kemudian memiliki total 355 hari dalam satu tahun.


BACA JUGA ; Rendang Lokan Mukomuko “Manggung” di Panggung KDI MNC TV, Dewan Juri Terkesima


Namun dalam kepercayaan masyarakat Romawi saat itu, angka genap dianggap membawa kesialan. Oleh karena itu sebagian besar bulan dibuat memiliki jumlah hari ganjil seperti 29 atau 31 hari. Akibat penyesuaian tersebut, bulan Februari akhirnya memiliki jumlah hari paling sedikit, yakni sekitar 28 hari.


Selain itu, Februari juga memiliki makna religius bagi masyarakat Romawi. Nama Februari berasal dari kata Latin Februa, yaitu ritual penyucian diri yang dilakukan menjelang pergantian tahun. Pada bulan ini masyarakat Romawi juga melaksanakan festival penghormatan kepada arwah leluhur seperti .


Perubahan berikutnya terjadi pada tahun 45 sebelum masehi ketika pemimpin Romawi memperkenalkan reformasi kalender yang dikenal sebagai . Dalam sistem ini, jumlah hari dalam satu tahun ditetapkan menjadi 365 hari dengan tambahan satu hari setiap empat tahun sekali, yang dikenal sebagai tahun kabisat.


Hari tambahan tersebut ditempatkan pada bulan Februari, sehingga pada tahun kabisat bulan ini memiliki 29 hari.


BACA JUGA ; Sejarah Terbentuknya Pantai Abrasi Air Punggur Mukomuko


Reformasi kalender kemudian disempurnakan pada tahun 1582 oleh Paus melalui penerapan , yang hingga kini digunakan oleh sebagian besar negara di dunia.


Melalui sistem kalender modern tersebut, Februari tetap dipertahankan sebagai bulan dengan jumlah hari paling sedikit, yakni 28 hari pada tahun biasa dan 29 hari pada tahun kabisat.


Dengan demikian, tradisi Februari sebagai bulan terpendek bukanlah keputusan baru, melainkan warisan sejarah panjang dari sistem kalender Romawi yang telah berlangsung lebih dari dua milenium.

 —
Reporter : Nur A's | Editor : Arief / Tri |Sumber Foto : Redaksi 

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)