Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, suasana kebahagiaan biasanya mulai terasa di tengah masyarakat. Pusat perbelanjaan ramai, kebutuhan pokok meningkat, dan perbincangan tentang Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi topik hangat di berbagai media. Namun, di balik gegap gempita tersebut, ada kegelisahan yang diam-diam dirasakan oleh ribuan Guru Honorer dan Guru Yayasan di seluruh pelosok negeri.
Bagi sebagian besar aparatur negara dan pekerja formal, THR adalah hak yang hampir pasti diterima. Ia menjadi penopang ekonomi keluarga untuk menyambut Lebaran dengan lebih layak. Sayangnya, kepastian itu tidak selalu dirasakan oleh Guru Honorer dan Guru Yayasan. Banyak dari mereka masih berada dalam ketidakjelasan: apakah akan menerima THR, kapan diberikan, dan dalam bentuk apa.
Antara Pengabdian dan Kebutuhan Hidup
Guru Honorer dan Guru Yayasan adalah pilar penting dalam dunia pendidikan. Mereka mengajar, membimbing, dan membentuk karakter generasi bangsa dengan dedikasi tinggi. Ironisnya, pengabdian tersebut sering tidak sebanding dengan kesejahteraan yang diterima. Gaji yang minim, pembayaran yang kadang terlambat, serta ketiadaan jaminan finansial menjelang hari besar keagamaan menjadi kenyataan yang harus mereka hadapi setiap tahun.
Menjelang Ramadhan, kebutuhan rumah tangga meningkat. Harga bahan pokok naik, kebutuhan anak sekolah bertambah, dan tradisi mudik membutuhkan biaya tidak sedikit. Dalam kondisi seperti ini, THR bukan sekadar bonus, melainkan harapan untuk bertahan dan menjaga martabat keluarga di hari raya.
Pemberitaan Ramai, Kenyataan Sepi
Media ramai memberitakan kepastian THR bagi ASN, pegawai BUMN, hingga pekerja sektor formal. Angka-angka disebutkan, skema dijelaskan, dan jadwal pencairan diumumkan. Namun, di ruang-ruang guru honorer dan sekolah swasta kecil, kabar itu justru terasa seperti gema yang jauh. Tidak sedikit guru yang hanya bisa membaca berita tanpa tahu apakah mereka termasuk yang diperhatikan.
Sebagian yayasan berusaha memberikan THR meski dalam keterbatasan, namun tidak sedikit pula yang belum mampu karena kondisi keuangan lembaga yang lemah. Akibatnya, guru kembali menjadi pihak yang harus memahami, bersabar, dan berkorban.
Beban Psikologis yang Tak Terlihat
Dilema ini bukan hanya soal uang, tetapi juga menyangkut beban mental. Guru tetap harus tampil profesional di kelas, menyemangati siswa, dan menanamkan nilai optimisme, sementara di rumah mereka dihantui kecemasan ekonomi. Mereka mendidik tentang harapan, namun sering harus menyembunyikan kegelisahan.
Lebih menyedihkan lagi, sebagian guru honorer tetap mengajar hingga menjelang libur Lebaran tanpa kepastian apakah jerih payah mereka akan dihargai secara layak. Pengabdian yang seharusnya mulia, terkadang terasa seperti perjuangan sunyi.
Saatnya Kepedulian Nyata
Momentum Ramadhan seharusnya menjadi waktu refleksi, bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi pemangku kebijakan dan pengelola pendidikan. Kesejahteraan guru honorer dan guru yayasan bukan isu pinggiran, melainkan bagian dari masa depan pendidikan bangsa.
Perlu ada kebijakan yang lebih adil, perhatian yang lebih nyata, dan komitmen bersama agar para guru—tanpa memandang status—dapat menyambut Ramadhan dan Lebaran dengan tenang, bermartabat, dan penuh harapan.
Karena pada akhirnya, di tangan merekalah generasi masa depan dibentuk. Sudah sepatutnya mereka tidak lagi berada dalam dilema setiap kali hari raya datang.
BACA JUGA; ANGGARAN THR 2026 SUDAH AMAN
_11zon.jpg)
