Gentengisasi Nasional: Antara Niat Baik Negara dan Realitas Rakyat



Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong penggantian atap seng menjadi genteng—yang kemudian dikenal sebagai gagasan “gentengisasi nasional”—memantik perdebatan publik. Di satu sisi, ide ini tampak sederhana dan rasional: genteng dianggap lebih sejuk, lebih tahan lama, dan meningkatkan kualitas hunian. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan mendasar: apakah kebijakan ini benar-benar menjawab kebutuhan rakyat, atau justru berpotensi menjadi beban baru?

Kebijakan publik tidak cukup dinilai dari niat baiknya, tetapi dari realitas sosial, ekonomi, dan kemampuan implementasinya.

Niat Baik yang Tidak Diragukan

Secara konseptual, gagasan mengganti atap seng dengan genteng memiliki dasar yang cukup kuat.

Atap seng memang dikenal menyerap panas, membuat rumah lebih gerah, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia. Dari sisi kesehatan dan kenyamanan, penggunaan genteng dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah yang tinggal di rumah sederhana.

Selain itu, gagasan ini juga diproyeksikan mendorong industri genteng lokal, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan ekonomi rakyat melalui produksi berbasis daerah. Dalam narasi pembangunan, ide ini tampak selaras dengan konsep ekonomi kerakyatan dan peningkatan kualitas hunian nasional.

Namun, kebijakan yang baik di atas kertas belum tentu mudah di lapangan.

Ketika Kebijakan Berhadapan dengan Realitas

Masalah utama dari gagasan gentengisasi bukan pada tujuannya, tetapi pada konteks sosial masyarakat Indonesia yang sangat beragam.

1. Tidak Semua Rumah Siap Diganti Atapnya

Banyak rumah rakyat, terutama di desa dan kawasan pesisir, dibangun dengan struktur ringan yang dirancang khusus untuk atap seng. Genteng jauh lebih berat. Mengganti atap tanpa memperkuat struktur bangunan berisiko merusak rumah itu sendiri.

Artinya, persoalan ini bukan sekadar mengganti material atap, tetapi menyangkut biaya renovasi struktural yang tidak kecil.

Pertanyaannya: siapa yang menanggung biaya itu?


2. Beban Ekonomi Rakyat

Jika kebijakan ini tidak disertai subsidi penuh, maka masyarakat—terutama kelompok miskin—akan menghadapi tekanan ekonomi baru. Ironis jika program yang dimaksudkan meningkatkan kualitas hidup justru menambah beban hidup.

Dalam konteks daya beli masyarakat yang belum merata, kebijakan semacam ini berisiko menjadi program elitis yang tidak sensitif terhadap kondisi rakyat kecil.

3. Indonesia Bukan Satu Kondisi

Indonesia memiliki kondisi geografis, budaya bangunan, dan iklim yang berbeda-beda. Di beberapa daerah, seng justru dipilih karena:

  • Lebih ringan dan tahan gempa

  • Lebih cocok di wilayah lembap dan pesisir

  • Lebih mudah dipasang dan diperbaiki

  • Biaya transportasi genteng terlalu mahal

Kebijakan nasional yang terlalu seragam berpotensi mengabaikan kearifan lokal dan realitas teknis daerah.

4. Risiko Kebijakan Simbolik

Ada kekhawatiran bahwa gentengisasi bisa menjadi kebijakan simbolik—terlihat besar secara narasi, namun tidak menyentuh akar masalah perumahan rakyat: kemiskinan, akses rumah layak, sanitasi, dan infrastruktur dasar.

Mengganti atap tidak otomatis menyelesaikan:

  • Rumah tidak layak huni

  • Kemiskinan struktural

  • Ketimpangan pembangunan

  • Krisis perumahan rakyat

Tanpa pendekatan komprehensif, gentengisasi berisiko menjadi solusi parsial untuk masalah yang sistemik.

Jika Ingin Berhasil, Kebijakan Harus Realistis

Agar tidak menjadi beban sosial, beberapa hal mutlak diperlukan:

  • Tidak bersifat wajib dan seragam

  • Berbasis kebutuhan dan kondisi daerah

  • Disertai subsidi bagi masyarakat miskin

  • Didukung kajian teknis bangunan

  • Melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat

  • Terintegrasi dengan program perumahan nasional

Kebijakan publik yang baik adalah kebijakan yang adaptif, bukan normatif.

Kesimpulan: Antara Ide Besar dan Tantangan Besar

Gagasan Presiden Prabowo tentang gentengisasi nasional mengandung niat baik: meningkatkan kualitas hunian, kesehatan, dan ekonomi rakyat. Namun, dalam realitas Indonesia yang kompleks, kebijakan ini tidak bisa dijalankan secara sederhana.

Tanpa perencanaan matang, subsidi jelas, dan sensitivitas terhadap kondisi masyarakat, gentengisasi berpotensi berubah dari solusi menjadi beban.

Negara tidak cukup hadir dengan gagasan besar. Negara harus hadir dengan kebijakan yang membumi, realistis, dan berpihak pada rakyat.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama